Suara Buruh suara kemanusiaan oleh Apriceni Gagali

banner 120x600

Hari Buruh bukan sekadar tanggal di kalender, melainkan cermin panjang perjalanan manusia dalam memperjuangkan martabat kerja.

 

Sebagai seorang perempuan aktivis, saya Apriceni Gagali. SH.,M.Pd. memandang Hari Buruh sebagai pengingat bahwa kerja bukan hanya soal upah, tetapi juga soal keadilan, rasa aman, dan pengakuan atas kemanusiaan.

 

Di banyak tempat, kita masih menyaksikan buruh yang bekerja keras dari pagi hingga malam, namun belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan yang layak. Ada yang upahnya belum cukup untuk kebutuhan dasar, ada yang masih menghadapi ketidakpastian kerja, bahkan ada yang suaranya tidak didengar ketika menyuarakan haknya.

 

Ini bukan sekadar isu ekonomi, tetapi isu kemanusiaan.

 

Sebagai perempuan, saya juga melihat lapisan lain dari ketidakadilan itu.

 

Buruh perempuan sering kali menghadapi beban ganda: di tempat kerja mereka dituntut produktif, di rumah mereka tetap memikul tanggung jawab domestik. Belum lagi tantangan seperti diskriminasi, pelecehan, dan keterbatasan akses terhadap perlindungan kerja yang setara.

 

Hari Buruh seharusnya menjadi momentum untuk tidak hanya merayakan perjuangan masa lalu, tetapi juga memperkuat komitmen masa depan.

 

Kita perlu mendorong sistem kerja yang lebih adil, kebijakan yang berpihak pada pekerja, serta ruang dialog yang benar-benar mendengar suara buruh tanpa pengecualian.

 

Namun saya juga percaya, perubahan tidak hanya datang dari kebijakan besar. Ia tumbuh dari kesadaran kolektif bahwa setiap pekerja, apa pun profesinya, memiliki nilai yang sama. Bahwa tidak ada pembangunan yang benar-benar berarti jika berdiri di atas ketidakadilan.

 

Hari Buruh adalah panggilan untuk terus bersuara, bukan dengan amarah semata, tetapi dengan keteguhan dan solidaritas.

 

Karena pada akhirnya, martabat kerja adalah martabat manusia itu sendiri. (red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *