Berita  

MERAH PUTIH TAK PERLU MENUNGGU PERINTAH

Apriceni Gagali, S.H., M.Pd.

banner 120x600

Ada satu hal sederhana yang kerap kita lupakan sebagai bangsa: mengibarkan Merah Putih tidak seharusnya menunggu perintah, tetapi lahir dari kesadaran.

Ketika bulan kemerdekaan tiba, apakah kita masih harus menunggu surat edaran, instruksi, atau teguran untuk memasang bendera di depan rumah?

Bukankah Merah Putih adalah simbol perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan harga diri bangsa?

Mengibarkan Merah Putih: Mengulang Kesadaran 17 Agustus 1945

Mari kita kembali sejenak ke pagi 17 Agustus 1945.

Di Pegangsaan Timur 56, Jakarta, Indonesia belum memiliki gedung megah, upacara kenegaraan yang lengkap, ataupun kemewahan seperti yang kita saksikan hari ini.

Namun di sana ada sesuatu yang jauh lebih besar: keberanian untuk menyatakan bahwa bangsa Indonesia telah merdeka.

Setelah Proklamasi dibacakan, Bendera Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendraningrat dan Suhud, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bendera yang dikibarkan itu adalah bendera yang dijahit oleh Fatmawati.

Bayangkan makna saat kain Merah Putih itu perlahan naik ke tiang.

Merah naik membawa keberanian.

Putih naik membawa kesucian.

Keduanya naik bersama membawa kehormatan sebuah bangsa.

Saat itu, pengibaran bendera bukan sekadar seremoni. Ia adalah pernyataan bahwa Indonesia berani berdiri dengan kakinya sendiri dan menentukan nasibnya sendiri.

Karena itu, setiap kali kita mengibarkan Merah Putih hari ini, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali semangat yang sama.

Bukan sekadar menaikkan kain ke tiang.

Tetapi menaikkan kembali kesadaran sebagai bangsa.

Bung Karno pernah mengingatkan kita melalui pesan “Jas Merah—Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.”

Pesan itu terasa semakin penting ketika kita melihat Merah Putih berkibar.

Di balik merah dan putih itu ada sejarah panjang. Ada air mata, darah, pengorbanan, dan nyawa para pejuang yang dipertaruhkan demi satu cita-cita: Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Mereka tidak berjuang agar generasi setelahnya sekadar menikmati kemerdekaan.

Mereka berjuang agar kita mampu menghargai, menjaga, dan mengisi kemerdekaan.

Lalu, apakah terlalu berat bagi kita memasang satu bendera di depan rumah?

Apakah mencintai Indonesia harus selalu menunggu diperintah?

Saya kira, tidak.

Justru dari hal-hal sederhana itulah kesadaran kebangsaan diuji.

Memasang Merah Putih bukan sekadar menjalankan kewajiban menjelang peringatan kemerdekaan. Ia adalah bentuk penghormatan kepada sejarah dan kepada mereka yang telah memberikan hidupnya untuk negeri ini.

Kita memang tidak harus menjadi pahlawan di medan perang untuk membuktikan cinta kepada Indonesia.

Kita bisa memulainya dari rumah: memasang Merah Putih, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati hukum, bekerja dengan jujur, dan menjaga martabat bangsa.

Kemerdekaan bukan warisan untuk dinikmati tanpa tanggung jawab.

Kemerdekaan adalah amanah.

Bung Karno dan para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi Indonesia sebagai negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan bermartabat.

Tugas generasi hari ini bukan sekadar mengenang perjuangan mereka, tetapi memastikan semangat itu tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, ketika Merah Putih mulai menghiasi jalan, rumah, sekolah, kantor, dan ruang publik, jangan melihatnya hanya sebagai rutinitas tahunan.

Lihatlah ia sebagai pesan dari masa lalu kepada generasi hari ini:

Jangan sia-siakan pengorbanan kami.

Maka, pasang bendera bukan karena takut diperintah.

Pasang karena sadar.

Kibarkan karena bangga.

Hormati karena tahu sejarahnya.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memperingati hari kemerdekaannya, tetapi bangsa yang mampu menghidupkan nilai-nilai kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada Agustus 1945, Merah Putih dikibarkan sebagai tanda lahirnya sebuah bangsa yang berani mengambil nasibnya sendiri.

Hari ini, ketika kita mengibarkannya kembali, pertanyaannya sederhana:

Apakah keberanian itu masih hidup dalam diri kita?

Selama Merah Putih masih berkibar di negeri ini, semoga cinta kepada Indonesia juga tetap berkibar di hati setiap anak bangsa.

Dirgahayu Republik Indonesia.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *