MalutHomadebini.id – Pelaksanaan Sidang Sinode Istimewa Bersama (SSIB) Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) Tahun 2026 memasuki hari kedua, Jumat (24/7/2026). Seluruh rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah pagi yang berlangsung pukul 08.00 WIT di Gedung Gereja Imanuel Gamsungi, Kabupaten Halmahera Utara.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. Ch. Hendryinik, M.Th yang menyampaikan renungan firman Tuhan dari Kejadian 33:1–4 dengan tema “Pengampunan Membuka Jalan Menuju Masa Depan Bersama.” Suasana ibadah semakin khidmat dengan pelayanan Paduan Suara Gabungan Remaja GMIH Bambu Tada yang membawakan puji-pujian, mengajak seluruh peserta mempersiapkan hati serta membangun semangat kebersamaan dalam mengawali persidangan hari kedua SSIB.
Dalam renungannya, Pdt. Hendryinik menegaskan bahwa masa depan tidak dapat dibangun tanpa keberanian menyelesaikan luka masa lalu. Menurutnya, kepahitan yang terus dipelihara hanya akan memperpanjang jarak, melahirkan permusuhan, dan menghambat panggilan gereja untuk hidup dalam kesatuan.
Melalui kisah perjumpaan Yakub dan Esau, ia menjelaskan bahwa kuasa Allah sanggup mengubah hati manusia. Pertemuan yang semestinya dipenuhi dendam justru berubah menjadi pelukan, tangisan, dan rekonsiliasi. Peristiwa itu menunjukkan bahwa pengampunan selalu lahir dari hati yang telah dipulihkan oleh Tuhan.
“Rekonsiliasi sejati selalu diawali oleh karya Allah yang mengubah hati manusia. Ketika hati diubahkan, permusuhan berubah menjadi persaudaraan,” tegasnya.
Pesan tersebut dinilai sangat relevan dengan perjalanan penyatuan GMIH. Ia mengingatkan bahwa luka akibat konflik tidak boleh terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebaliknya, gereja dipanggil untuk memutus mata rantai perpecahan melalui keberanian mengampuni dan membangun kembali kepercayaan.
Lebih lanjut, Pdt. Hendryinik menekankan bahwa penyatuan GMIH bukan sekadar mengakhiri konflik, melainkan menghidupkan kembali misi Allah melalui gereja yang utuh, bersatu, dan menjadi saksi kasih Kristus di tengah dunia.
Menutup renungannya, ia menyebut SSIB sebagai momentum kairos—waktu yang Tuhan berikan untuk membuka lembaran baru dalam perjalanan GMIH. Ia mengajak seluruh peserta agar tidak lagi terpaku pada siapa yang paling benar di masa lalu, tetapi bersama-sama melangkah dalam kasih, pengampunan, dan semangat persaudaraan.
Usai ibadah, persidangan dilanjutkan dengan pembacaan Laporan dan Pandangan Umum Tim Penyatuan GMIH yang disampaikan oleh Sekretaris Tim Penyatuan GMIH, Pdt. Ir. L.S. Boediman, S.Si., M.Th. Laporan tersebut menjadi agenda strategis yang memuat perkembangan proses penyatuan GMIH serta pandangan umum sebagai bahan pembahasan dalam Sidang Sinode Istimewa Bersama.
Seluruh rangkaian persidangan yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026 di Jemaat Imanuel Gamsungi, Tobelo mengusung semangat Kasih, Kesatuan, dan Kemuliaan Tuhan, berlandaskan Firman Tuhan dalam Filipi 2:2, “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan,” sebagai dasar memperkokoh persatuan dan kesatuan GMIH menuju masa depan gereja yang lebih kuat.
(Red).















