MalutHomadebini.id-, Seruan untuk menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati menggema dari Rumah Adat Hibualamo, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, Kamis (3/9/2026).
Pesan tersebut disampaikan Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Halut, Jhon Anwar Kabalmay, saat mewakili Bupati Halmahera Utara dalam pembukaan Festival Keanekaragaman Hayati Maluku Utara (KEHATIMU) ke-4.
Festival yang berlangsung selama tiga hari, 3–5 September 2026, di Rumah Adat Hibualamo ini menjadi ruang pertemuan pemerintah, komunitas, pelajar, mahasiswa, akademisi, masyarakat adat, serta pegiat lingkungan untuk memperkuat edukasi sekaligus mendorong aksi nyata dalam pelestarian alam.
Dalam sambutannya, Jhon mengatakan Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara menaruh perhatian serius terhadap tiga krisis lingkungan global yang dampaknya semakin dirasakan hingga tingkat lokal, yakni perubahan iklim, polusi, dan kehilangan keanekaragaman hayati.
Dampaknya antara lain ditandai dengan peningkatan suhu, cuaca ekstrem, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan sumber air, hingga kondisi gelombang laut yang menjadi tantangan bagi masyarakat.
“Keanekaragaman hayati merupakan fondasi bagi kehidupan kita, karena menyediakan udara bersih, air, pangan, obat-obatan, serta menjaga keseimbangan iklim bumi,” tegas Jhon.
Menurutnya, kekayaan alam Maluku Utara bukan sekadar panorama yang indah. Hutan tropis, ekosistem pesisir dan laut, serta berbagai flora dan fauna di dalamnya merupakan bagian dari sistem penyangga kehidupan yang harus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Pemkab Halut juga menyoroti ancaman karhutla yang berpotensi menyebabkan kerusakan habitat fauna dan hilangnya berbagai jenis flora. Kondisi tersebut semakin kompleks dengan keterbatasan kewenangan pemerintah kabupaten/kota di bidang kehutanan serta keterbatasan sarana dan prasarana penanganan kebakaran.
Karena itu, perlindungan lingkungan membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah.
“Festival ini bukan hanya sebagai tempat untuk merayakan keindahan alam, melainkan sebagai momentum refleksi dan aksi nyata melalui pameran dan edukasi. Kami mengajak masyarakat untuk segera hijrah atau beralih, bukan hanya sebagai pengamat tetapi menjadi pelindung alam yang aktif,” ujar Jhon.
KEHATIMU Dorong Edukasi dan Kolaborasi
Ketua Panitia Festival KEHATIMU ke-4, Tjut F Bangun, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang edukasi, aksi, dan kolaborasi, bukan sekadar seremoni.
“Festival ini berawal dari semangat bersama untuk menyediakan ruang edukasi, aksi, dan kolaborasi bagi penyelamatan lingkungan di Maluku Utara. Kami ingin anak-anak sekolah, mahasiswa, dan komunitas lokal memiliki panggung untuk belajar sekaligus berekspresi,” ungkap Tjut.
Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran konservasi sejak dini. Sejumlah kegiatan kreatif dan edukatif disiapkan, mulai dari kuis cerdas cermat, lomba teater, pameran foto konservasi hingga kegiatan menggambar bagi anak-anak.
“Melalui kompetisi seperti kuis cerdas cermat, lomba teater, pameran foto, hingga kreasi anak menggambar, kami berharap pesan perlindungan alam ini dapat diserap dengan cara yang menyenangkan dan membekas dalam ingatan mereka,” tambahnya.
Maluku Utara Hadapi Tekanan Ekologis
Koordinator Halmahera Burung Indonesia, Benny Siregar, menilai Maluku Utara memiliki posisi penting dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati, namun kawasan tersebut juga menghadapi tekanan ekologis.
“Maluku Utara adalah benteng keanekaragaman hayati yang bernilai amat penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga dunia. Namun hari ini, kita dihadapkan pada tantangan nyata: dari ancaman krisis iklim, karhutla, hingga berkurangnya keanekaragaman flora dan fauna endemik kita,” kata Benny.
Ia menegaskan bahwa konservasi tidak dapat dikerjakan oleh satu lembaga atau kelompok saja. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, komunitas pemuda, akademisi hingga masyarakat adat.
“Upaya menjaga benteng alam ini tidak bisa dikerjakan sendirian. Diperlukan kolaborasi lintas pihak agar perlindungan alam tidak berhenti pada ruang diskusi, melainkan mewujud dalam aksi nyata di lapangan,” tegasnya.
Festival KEHATIMU ke-4 diisi dengan berbagai kegiatan, antara lain pameran foto konservasi, EXPO pemuda, panggung seni dan budaya, lomba edukatif bagi pelajar, serta talkshow interaktif yang menghadirkan unsur pemerintah daerah, BKSDA, akademisi Universitas Halmahera, dan komunitas lokal.
Selain menjadi ruang edukasi lingkungan, festival juga memberikan kesempatan bagi komunitas dan peserta untuk memperkenalkan produk khas daerah serta berbagi gagasan mengenai konservasi.
Pemilihan Rumah Adat Hibualamo sebagai lokasi festival turut memberikan dimensi budaya dalam gerakan lingkungan. Konservasi ditempatkan bukan hanya sebagai isu ekologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari Hibualamo, pesan KEHATIMU ke-4 menjadi jelas: menjaga alam bukan sekadar wacana, tetapi membutuhkan kepedulian, kolaborasi, dan aksi nyata untuk memastikan kekayaan keanekaragaman hayati Maluku Utara tetap lestari bagi generasi mendatang. (Red)















