MAMUYA, Maluku Utara — Desa kecil Mamuya di Kabupaten Halmahera Utara mendadak menjadi pusat perhatian setelah tragedi erupsi Gunung Dukono yang menewaskan tiga pendaki, termasuk dua warga negara Singapura. Selama tiga hari, ratusan personel TNI, Basarnas, relawan SAR, dan warga desa berjibaku melakukan pencarian di tengah kondisi gunung yang masih aktif mengeluarkan abu vulkanik dan material panas.
Di balik operasi kemanusiaan tersebut, muncul sosok-sosok warga lokal yang menjadi garda terdepan penyelamatan. Regu 01 AKAMSI (Asli Anak Kampung) bersama unsur tim NHM, BPBD Kabupaten Halmahera Utara, TNI–Polri, dan tim SAR menjadi kelompok pertama yang berhasil menembus jalur menuju lokasi korban di kawasan kawah Gunung Dukono.
Dipimpin Sharil Basir alias Koces, para relawan bertahan semalaman di gunung dengan kondisi terbatas dan hanya berbekal satu potong roti selama proses pencarian berlangsung. Di tengah hujan abu, medan licin, dan ancaman erupsi susulan, mereka tetap bergerak demi menyelamatkan sesama.
“Saya tidak pernah melihat jenazah seperti itu. Sampai sekarang masih merinding kalau mengingatnya,” ujar Jabir Abdul (42), salah satu relawan yang ikut langsung dalam proses pencarian korban.
Jabir bersama sekitar 30 warga Mamuya menjadi pihak pertama yang mendaki menuju area berbahaya dekat kawah. Dalam operasi tersebut, korban atas nama Angel pertama kali ditemukan oleh tim relawan dari arah berbeda yang dipimpin Kiril dan Rustamin. Namun, sosok pertama yang memegang jasad korban diketahui adalah Jabir Abdul dari Regu 01 AKAMSI.
Korban diketahui merupakan bagian dari rombongan 20 pendaki yang berada di sekitar kawah saat erupsi besar terjadi pada Jumat, 8 Mei 2026. Sebanyak 17 pendaki berhasil menyelamatkan diri, sementara tiga lainnya ditemukan meninggal dunia setelah proses pencarian selama dua hari.
Menurut data PVMBG, erupsi 8 Mei menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah aktivitas Gunung Dukono sejak pencatatan dilakukan pada 1933. Letusan memuntahkan abu vulkanik hingga mencapai sekitar 10.000 meter ke udara.
Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengakui keterlibatan warga lokal sangat menentukan keberhasilan operasi pencarian dan evakuasi korban.
“Mereka mengenal medan dengan sangat baik, memahami karakter Gunung Dukono, dan sangat antusias membantu operasi. Bahkan warga yang tidak ikut pencarian turut membantu logistik dan transportasi,” ujarnya.
Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, turut memberikan apresiasi kepada seluruh relawan, tim NHM, BPBD, TNI–Polri, dan tim SAR atas keberanian serta semangat kemanusiaan yang ditunjukkan selama operasi berlangsung.
“Semangat gotong royong, keberanian, dan jiwa AKAMSI yang mereka tunjukkan menjadi kebanggaan bagi daerah,” kata Bupati.
Meski operasi SAR telah resmi ditutup, tragedi ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Mamuya. Warga mengaku terpukul karena pendakian sebenarnya telah dilarang sejak status Gunung Dukono dinaikkan menjadi Siaga Level III pada 17 April 2026.
“Tragedi ini seharusnya bisa dihindari. Setelah ini kami akan duduk bersama mencari cara agar tidak ada lagi yang melanggar larangan mendaki,” ujar Hambali Diadi, relawan lainnya yang berada di garis depan pencarian.
Tragedi Gunung Dukono bukan hanya tentang duka, tetapi juga tentang solidaritas, keberanian, dan ketulusan warga kampung yang hadir paling depan ketika kemanusiaan membutuhkan.
AKAMSI bukan sekadar nama, melainkan bukti bahwa anak-anak kampung selalu berdiri di garis terdepan untuk sesama. (Red)















