Canga Dipilih Jadi Nama Pelabuhan Tobelo, Ini Alasan Historis dan Kulturalnya

banner 120x600

Tobelo – Wacana penamaan pelabuhan di Tobelo sebagai Pelabuhan Canga Tobelo mulai menguat dan mendapat perhatian publik. Penamaan tersebut dinilai bukan sekadar keputusan administratif, melainkan memiliki dasar historis dan kultural yang kuat bagi masyarakat Tobelo di Halmahera Utara.

Canga dikenal sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Tobelo. Nama ini telah lama hidup dalam ingatan kolektif warga, terutama sebagai ruang mobilitas dan interaksi sosial masyarakat pesisir di masa lalu. Karena itu, penggunaan nama Canga dianggap representatif dalam menggambarkan identitas lokal.

Sejumlah kalangan menilai, setiap daerah pada umumnya memiliki kecenderungan untuk menamai fasilitas publik berdasarkan nilai sejarah yang melekat. Penamaan tersebut bukan hanya simbol, tetapi juga cara menjaga kesinambungan antara pembangunan modern dan akar budaya masyarakat.

Sebagai perbandingan, sejumlah infrastruktur nasional juga mengadopsi nama yang sarat makna historis, seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang diambil dari tokoh proklamator Indonesia. Praktik serupa juga banyak ditemukan pada pelabuhan dan fasilitas publik lain di berbagai daerah di Indonesia.

Dalam konteks Halmahera Utara, penamaan Pelabuhan Canga Tobelo dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat identitas daerah sekaligus mengangkat nilai-nilai lokal ke ruang publik yang lebih luas.

Selain itu, penggunaan nama lokal diyakini dapat menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap infrastruktur yang dibangun.

Menurut Piet Hein Rajawange kepada awak media Malut homadebini.id, penamaan Canga bukan hanya soal nama, tetapi juga menyangkut nilai sejarah yang hidup dalam masyarakat Tobelo. Ia menegaskan bahwa identitas lokal harus tetap menjadi pijakan utama dalam setiap proses pembangunan daerah.

“Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang, sudah sepatutnya kita mengangkat nama-nama yang lahir dari akar budaya kita sendiri. Canga adalah bagian dari itu,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Halmahera Utara, Piet Hein Babua, dipandang sebagai putra daerah Tonaka Madutu yang memahami secara mendalam nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat Tobelo. Perspektif tersebut dinilai memperkuat alasan penggunaan nama Canga dalam penamaan Pelabuhan Canga Tobelo, sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas dan warisan budaya daerah.

Adapun proses penetapan nama pelabuhan akan melalui mekanisme resmi, mulai dari pengusulan pemerintah daerah, pembahasan bersama pihak terkait, hingga pengesahan melalui keputusan kepala daerah sesuai ketentuan yang berlaku.

Momentum penyambutan KM Tatamailau yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 30 April 2026, akan bersamaan dengan penamaan pelabuhan oleh Piet Hein Babua sebagai Pelabuhan Canga Tobelo, dalam rangkaian agenda resmi daerah yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.

Penamaan ini diharapkan tidak hanya menjadi identitas fisik pelabuhan, tetapi juga simbol keberlanjutan sejarah dan budaya masyarakat Tobelo.

Pemerintah daerah pun diharapkan tetap membuka ruang partisipasi publik agar keputusan yang diambil benar-benar merepresentasikan aspirasi masyarakat secara luas. (red)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *