Berita  

Membangun Budaya Perdamaian di GMIH, Pdt. Rehnal Mahiku: Persatuan Adalah Harga Mati

banner 120x600

MalutHomadebini.id _,  Perjalanan panjang Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH) dalam melewati berbagai dinamika pelayanan dan pergumulan selama kurang lebih 13 tahun menjadi refleksi penting dalam ibadah Minggu, 2 Agustus 2026, di Gereja Bukit Moria Pitu.

Dalam pelayanan firman dengan tema “Membangun Budaya Perdamaian di GMIH”, Pdt. Rehnal Mahiku mengajak seluruh jemaat untuk tidak lagi melihat perbedaan sebagai alasan untuk terpecah, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari proses pendewasaan gereja menuju persatuan.

Ia menegaskan, perjalanan GMIH telah melewati berbagai tahapan dan pergumulan, termasuk proses persidangan yang melahirkan keputusan-keputusan penting terkait Tata Dasar dan Peraturan GMIH melalui Komisi I.

Tidak dipungkiri, proses tersebut sempat menghadirkan kekhawatiran. Namun, seluruh pergumulan akhirnya dapat dilewati dengan sukacita karena, menurut Pdt. Rehnal, Tuhan Yesus Kristus sebagai Kepala Gereja terus menyertai perjuangan umat-Nya.

“Puji Tuhan, semua bisa kita lewati dengan penuh sukacita. Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja turut serta dalam perjuangan dan pergumulan GMIH untuk bersatu,” ungkapnya.

Pesan persatuan kemudian disampaikan secara terbuka kepada jemaat.

“Gereja Masehi Injili di Halmahera mau bersatu, dan itu sudah terwujud. Bapak, Ibu, apakah setuju kalau kita bersatu?”

Seruan tersebut langsung disambut jemaat dengan jawaban tegas, “Setuju!”

Bagi Pdt. Rehnal, persatuan GMIH bukan sekadar hasil dari sebuah keputusan formal, tetapi buah dari pergumulan panjang yang harus dijaga bersama.

“Itu harga mati. Tidak mungkin pergumulan selama 13 tahun ini tidak memiliki jawaban, lalu kita terus berada dalam keadaan yang sama,” tegasnya.

Belajar dari Yesus: Melihat, Peduli dan Bertindak

Untuk memperkuat pesan tersebut, Pdt. Rehnal mengajak jemaat merenungkan firman Tuhan dari Matius 14:13–21, tentang Yesus memberi makan lima ribu orang.

Kisah tersebut juga dicatat dalam Injil Markus, Lukas dan Yohanes. Dalam kajian Injil, Matius, Markus dan Lukas dikenal sebagai Injil Sinoptik karena memiliki sejumlah kesamaan dalam struktur maupun kisah yang disampaikan. Markus secara umum dipandang sebagai Injil kanonik yang paling awal ditulis dan menjadi salah satu sumber penting dalam memahami hubungan sastra di antara Injil Sinoptik.

Dalam kisah tersebut, Yesus berhadapan dengan orang banyak yang membutuhkan pertolongan. Ia tidak mengabaikan keadaan mereka, tetapi tergerak oleh belas kasih.

Bagi Pdt. Rehnal, sikap Yesus merupakan teladan bagi gereja. Pelayanan tidak boleh berhenti pada perkataan maupun keputusan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Gereja dipanggil untuk melihat, peduli dan bertindak.

Yesus bahkan melibatkan para murid dalam pelayanan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan pelayanan bukan tanggung jawab satu orang, melainkan panggilan bersama.

Dari kisah itu, jemaat diajak memahami bahwa membangun gereja membutuhkan keterlibatan semua pihak. Persatuan tidak akan tumbuh apabila setiap orang hanya mempertahankan kepentingan pribadi maupun kelompok.

Konsensus Harus Menjadi Jalan Bersama

Pdt. Rehnal juga menekankan pentingnya menghargai proses dan konsensus yang telah dicapai melalui perjalanan bersama.

Ketika gereja telah duduk bersama, berdialog, mendengarkan berbagai pandangan dan menemukan kesepakatan, maka keputusan tersebut harus dihormati dan menjadi pijakan untuk membangun masa depan bersama.

“Budaya perdamaian tidak dibangun oleh satu orang. Perdamaian membutuhkan kebersamaan, kesediaan untuk saling mendengar, saling membantu dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.”

Karena itu, perbedaan pandangan tidak boleh berubah menjadi tembok pemisah. Perbedaan harus dikelola dengan kedewasaan iman, kasih, komunikasi yang sehat dan semangat persaudaraan.

Penyatuan juga tidak cukup hanya melalui keputusan formal. Persatuan harus lahir dari hati yang mau berdamai, saling mengampuni, saling menerima dan bersedia berjalan bersama.

Menjaga Apa yang Telah Dicapai

Pdt. Rehnal mengingatkan bahwa perjalanan panjang GMIH tidak boleh berhenti pada sebuah keputusan. Apa yang telah dicapai harus dirawat dan diterjemahkan dalam kehidupan pelayanan sehari-hari.

Setiap warga gereja memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan melalui pelayanan yang tulus, komunikasi yang sehat, sikap saling menghargai dan tindakan yang mencerminkan kasih Kristus.

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang juga mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melayani. Sesuatu yang sederhana, ketika dikerjakan bersama dalam iman dan kasih, dapat menjadi berkat yang besar.

Karena itu, jemaat diajak bukan hanya menjadi pendengar firman, tetapi menjadi pelaku kasih di tengah keluarga, gereja dan masyarakat.

Menolong sesama, menjaga persaudaraan, menghindari pertikaian, menghargai perbedaan dan menghadirkan ketenangan merupakan bentuk nyata membangun budaya perdamaian.

“Jika Yesus tergerak oleh belas kasih ketika melihat orang banyak yang membutuhkan, maka gereja pun dipanggil untuk memiliki hati yang sama: melihat, peduli dan bertindak.”

Ibadah Minggu tersebut menjadi momentum untuk melihat perjalanan GMIH dengan perspektif yang baru. Pergumulan masa lalu tidak harus terus menjadi beban, tetapi dapat menjadi pelajaran untuk membangun kehidupan gereja yang lebih dewasa.

GMIH membutuhkan persatuan yang bukan hanya terdengar dalam forum gerejawi, tetapi nyata dalam kehidupan umat.

Persatuan harus diwujudkan dengan kesediaan untuk berjalan bersama, bekerja bersama dan saling menopang dalam pelayanan.

Pada akhirnya, membangun budaya perdamaian di GMIH bukan sekadar slogan, melainkan sebuah cara hidup: saling menghargai, saling menguatkan, saling mengampuni, melayani dengan kasih dan menjaga persatuan.

Dari Gereja Bukit Moria Pitu, pesan itu kembali ditegaskan:

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *